Bukan Sekadar Pilihan, Inilah Alasan Mendasar Pancasila Menjadi Ruh Indonesia

Pernah nggak sih, kita bertanya-tanya, kenapa sih negara kita punya dasar namanya Pancasila? Kenapa bukan ideologi lain yang mungkin lebih populer di dunia, seperti liberalisme atau sosialisme? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tapi jawabannya adalah cerita panjang tentang perjuangan, kebangkrutan gagasan, dan pencarian jati diri sebuah bangsa yang baru saja merdeka. Proses menjadikan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia bukanlah keputusan yang diambil dalam satu malam, atau sekadar hasil kompromi politik biasa. Ini adalah sebuah kesadaran kolektif yang lahir dari pergulatan pemikiran para pendiri bangsa, yang menyadari bahwa Indonesia membutuhkan pondasi yang kuat, lentur, dan benar-benar mencerminkan kepribadiannya sendiri. Jadi, pancasila dijadikan sebagai dasar negara indonesia karena alasan-alasan yang sangat mendalam, filosofis, dan praktis yang akan kita bahas sampai akar-akarnya.

Latar Belakang yang Berdarah-darah: Indonesia Sebelum Pancasila

Untuk memahami betapa pentingnya Pancasila, kita harus mundur sejenak ke masa sebelum 1945. Indonesia adalah sebuah wilayah yang sangat luas, terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan agama. Penjajahan Belanda dan Jepang selama berabad-abad memang menyatukan penderitaan, tetapi juga meninggalkan perbedaan yang sangat tajam. Saat kemerdekaan mulai tercium, muncul pertanyaan besar: "Negara seperti apa yang akan kita bangun?"

Ada kelompok yang menginginkan negara berbasis agama tertentu, dengan hukum agama sebagai dasar negara. Di sisi lain, ada kelompok nasionalis sekuler yang menginginkan pemisahan mutlak antara agama dan negara. Belum lagi pengaruh pemikiran sosialis-komunis yang juga cukup kuat. Kondisi ini ibarat bom waktu. Tanpa dasar negara yang bisa diterima semua pihak, Indonesia yang baru lahir bisa langsung terpecah belah sebelum sempat berdiri. Situasi inilah yang membuat BPUPKI dan kemudian PPKI bekerja keras mencari formula terbaik.

Perdebatan Sengit di BPUPKI dan Momen "Lahirnya" Pancasila

Sidang BPUPKI pertama (Mei-Juni 1945) adalah panggung perdebatan sengit. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan Soepomo saling adu argumen. Soekarno, dalam pidato legendarisnya tanggal 1 Juni 1945, untuk pertama kalinya mengemukakan konsep "Pancasila". Lima sila yang ia usulkan saat itu adalah:

  • Kebangsaan Indonesia
  • Internasionalisme atau Perikemanusiaan
  • Mufakat atau Demokrasi
  • Kesejahteraan Sosial
  • Ketuhanan yang Berkebudayaan

Namun, usulan ini belum final. Perdebatan terutama memanas pada sila pertama. Kelompok Islam menginginkan piagam Jakarta (Jakarta Charter) dengan frasa "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Sementara kelompok dari Indonesia Timur dan non-Muslim merasa keberatan. Inilah titik kritisnya. Jika dipaksakan, negara baru ini bisa langsung terbelah.

Alasan Utama: Mengapa Pancasila Akhirnya Terpilih?

Nah, sekarang kita masuk ke intinya. Pancasila dijadikan sebagai dasar negara indonesia karena beberapa faktor kunci yang menjadikannya satu-satunya pilihan yang paling masuk akal dan berkelanjutan.

1. Sebagai Pemersatu Bangsa yang Sangat Majemuk (The Ultimate Unifying Force)

Ini adalah alasan paling utama dan praktis. Pancasila, khususnya setelah sila pertamanya diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" (menghilangkan frasa syariat Islam dari Piagam Jakarta), berhasil menjadi common platform. Sila ini menjamin setiap warga negara bebas beribadah sesuai agamanya, tanpa satu agama pun dijadikan sebagai agama negara. Ini adalah solusi genius yang meredakan ketegangan. Pancasila menjadi payung besar yang bisa menaungi Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya, serta ratusan suku dan budaya. Ia menjadi common denominator, nilai bersama yang bisa disepakati oleh semua pihak yang berbeda-beda itu.

2. Karena Mencerminkan Kepribadian dan Nilai Luhur Bangsa Indonesia

Pancasila bukanlah ideologi impor. Soekarno sendiri menegaskan bahwa Pancasila digali dari bumi Indonesia sendiri. Nilai-nilainya:

  • Gotong Royong: Terwakili dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dan semangat musyawarah untuk mufakat.
  • Religiusitas yang Toleran: Masyarakat Indonesia sejak dulu adalah masyarakat yang religius, grampera.com tetapi juga sangat toleran, seperti tercermin dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
  • Keseimbangan: Keseimbangan antara hak individu dan kewajiban sosial, antara dunia dan akhirat, antara kemajuan dan tradisi.

Pancasila adalah kristalisasi dari cara hidup (way of life) orang Indonesia yang sebenarnya. Ia menjadi identitas konstitusional kita.

3. Sebagai Penengah Antara Ekstrem Kiri dan Kanan

Pada masa itu, dunia terpolarisasi antara blok kapitalis (liberal) di barat dan blok komunis (sosialis) di timur. Indonesia tidak ingin terjebak dalam polarisasi ini. Pancasila hadir sebagai jalan tengah (middle path). Dari sisi ekonomi, ia menolak kapitalisme liberal yang ekstrem (yang dianggap eksploitatif) tetapi juga menolak komunisme atheis (yang bertentangan dengan sila pertama). Pancasila mengakui hak milik pribadi tetapi dengan tanggung jawab sosial yang besar (ekonomi kerakyatan). Ini membuat Indonesia bisa bergerak luwes dalam pergaulan internasional tanpa harus terikat pada satu blok tertentu.

4. Karena Fleksibel dan Bisa Beradaptasi dengan Zaman

Berbeda dengan ideologi lain yang seringkali kaku, Pancasila dirumuskan dengan nilai-nilai dasar (basic values) yang universal namun interpretasinya bisa berkembang. Ia bukan kitab dogma yang tertutup. Prinsip "musyawarah untuk mufakat" misalnya, bisa diterapkan dalam tradisi desa, di DPR, atau bahkan dalam rapat perusahaan modern. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi dasar bagi penghormatan HAM di era modern. Kelenturan inilah yang membuat Pancasila diharapkan tetap relevan dari masa ke masa, meski tantangannya berbeda.

Pancasila vs. Kandidat Lain: Kenapa Mereka "Gugur"?

Mari kita lihat sekilas mengapa alternatif lain tidak dipilih:

Negara Agama (Teokrasi)

Ditolak karena Indonesia terdiri dari banyak agama dan kepercayaan. Memilih satu agama sebagai dasar negara akan mengalienasi kelompok lain dan berpotensi besar menyebabkan konflik dan perpecahan sejak hari pertama. Ini bertentangan dengan semangat persatuan yang justru dibutuhkan.

Negara Sekuler Murni (Seperti Amerika)

Juga kurang cocok karena masyarakat Indonesia pada dasarnya sangat religius. Memisahkan agama dari negara secara total akan terasa mengingkari identitas sebagian besar rakyat. Pancasila menawarkan konsep yang lebih halus: negara tidak mengatur agama, tetapi negara berdasar atas Ketuhanan. Ini sering disebut sebagai religious secularism atau negara yang berketuhanan.

Komunisme

Gugur terutama karena prinsip atheisme dalam komunisme klasik bertabrakan frontal dengan keyakinan religius mayoritas rakyat Indonesia. Selain itu, sejarah pemberontakan PKI di masa awal juga memperkuat penolakan terhadap paham ini sebagai dasar negara.

Pancasila di Masa Kini: Masih Relevankah?

Pertanyaan ini sering muncul. Dengan globalisasi, media sosial, dan tantangan baru seperti radikalisme, intoleransi, dan kesenjangan ekonomi, apakah Pancasila masih ampuh? Jawabannya kembali ke esensi mengapa pancasila dijadikan sebagai dasar negara indonesia karena ia dirancang untuk situasi persis seperti ini: mengelola perbedaan dalam satu kesatuan.

Pancasila justru sangat dibutuhkan sekarang sebagai:

  1. Immune System: Sistem kekebalan bangsa terhadap paham-paham radikal dan intoleran yang ingin memecah belah. Sila Persatuan Indonesia adalah tameng utama.
  2. Moral Compass: Kompas moral di tengah carut-marut politik dan hukum. Prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan kita untuk tetap berperilaku santun.
  3. Panduan Bermedia Sosial: Semangat musyawarah dan kesantunan dalam sila keempat sangat relevan untuk mencegah ujaran kebencian dan hoaks di dunia digital.

Masalahnya, seringkali kita yang lupa atau sengaja mengabaikan nilai-nilai itu dalam tindakan sehari-hari. Pancasila tidak akan pernah usang; yang perlu diperbarui adalah cara kita memahami, menginternalisasi, dan mengamalkannya.

Merawat Warisan: Pancasila Bukan Hanya untuk Dihafal

Akhir kata, memahami alasan pancasila dijadikan sebagai dasar negara indonesia karena upaya para founding fathers mencari solusi terbaik bagi keutuhan bangsa, adalah langkah pertama. Langkah selanjutnya yang lebih penting adalah menjadikannya hidup dalam tindakan nyata. Mulai dari hal sederhana: menghormati tetangga yang berbeda agama, tidak menyebarkan kebencian di grup WhatsApp, aktif membangun lingkungan, hingga menolak segala bentuk korupsi yang jelas-jelas melanggar sila Keadilan Sosial.

Pancasila adalah sebuah konsensus nasional termahal yang pernah kita miliki. Ia lahir dari negosiasi yang alot, hampir pecah, tetapi akhirnya menemukan titik terang. Ia adalah jiwa dari Indonesia yang kita cintai ini. Merawatnya berarti merawat Indonesia itu sendiri. Jadi, sudahkah kita mengamalkannya hari ini?